Rumah Pelita dan Dinkes Bantul Gagas Komunitas Relawan Kesehatan Jiwa


Bantul – Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul bekerja sama dengan Yayasan Rumah Pelita Indonesia menyelenggarakan “Sosialisasi Update Knowledge Germas” salah satunya dalam bentuk Training of Trainer (ToT) Kesehatan Jiwa pada Senin (21/8) di Pendopo Suluh Sasmito Bantul. Peserta ToT tersebut diantaranya relawan Rumah Pelita, Fonaba (Forum Anak Bantul), YBRB (Yayasan Bina Remaja Bantul), dan Ruang Kolaborasi Pemuda (RKP).

Sigit Nursyam Priyanto, Co-Founder sekaligus Dewan Pembina Yayasan Rumah Pelita Indonesia mengungkapkan topik kesehatan jiwa menjadi pembahasan yang penting untuk dikaji saat ini. Hal itu karena maraknya banyak generasi muda khususnya gen-z yang mengalami gangguan kesehatan jiwa hingga melakukan self harm atau melukai diri sendiri.

“Di sini hadir para generasi muda, yang diharapkan bisa menjadi relawan untuk kesehatan jiwa di tengah masyarakat. Bisa dimulai dari lingkungan terdekat misalnya teman sekolah, jadi pelopor untuk lingkaran terdekat agar jangan sampai ada yang mengalami gangguan kesehatan jiwa yang nantinya akan berpengaruh ke produktivitas sehari-hari,” ungkap Sigit Nursyam yang juga merupakan anggota DPRD Bantul Fraksi PKS.

Sigit berharap setelah ini peserta ToT bukan sekadar menyimpan pengetahuan tapi juga menerapkan ilmu ke segmentasi yang lebih luas, menjadi gerakan snowballing yang semakin meluas sehingga benar-benar menjangkau lapisan masyarakat yang membutuhkan.

Narasumber dalam kegiatan ToT tersebut ialah Dr. dr. Warih Andan Puspitosari, M.Sc, SpKJ(K) berprofesi salah satunya sebagai relawan kesehatan jiwa masyarakat. Dalam pemaparannya, dr. Warih membuka dengan pernyataan bahwa tidak ada kesehatan tanpa kesehatan jiwa. dr. Warih yang turut aktif di pembinaan kader posyandu bagian kesehatan jiwa (keswa) menyoal perihal betapa menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang keswa masih memiliki banyak tantangan. Hal tersebut terutama karena adanya stigma negatif tentang orang-orang yang memiliki gangguan kesehatan jiwa.

“Kita itu seharusnya bisa dengan mudah mengetahui adanya gangguan kesehatan jiwa semudah kita mengetahui dan merasakan gejala-gejala ketika kita akan sakit flu. Kalau flu memang mudah kita ketahui gejalanya, karena lebih gampang dideskripsikan dibanding gangguan kesehatan jiwa. Hal ini jadi tantangan untuk kita semua yang punya akses informasi dan edukasi, jangan sampai banyak jiwa yang terluka karena kita tidak aware ternyata ada yang membutuhkan bantuan kesehatan jiwa di sekitar kita,” papar dr. Warih.

Lebih lanjut dr. Warih menambahkan ada tiga area kesehatan jiwa yaitu populasi orang sehat jiwa, kelompok dengan resiko dan orang dengan gangguan jiwa. Orang dengan sehat jiwa harus dijaga agar tetap sehat jiwanya, sementara orang dengan resiko dan bergangguan harus didampingi agar kembali sehat jiwa hingga melakukan pengobatan sampai pulih jiwanya.

“Dalam hal pengobatan masalah kesehatan jiwa, kita tidak bisa menyamaratakan satu pasien dengan pasien yang lain. Misalnya si A bisa memperoleh ketenangan jiwa dengan rekreasi ke pantai, hal tersebut belum tentu berlaku untuk si B. Maka pengobatan kesehatan jiwa harus melalui konseling yang mendalam agar menemukan solusi terbaik untuk pasien,” ungkapnya.

Di akhir dr. Warih menyampaikan, jalan pejuang kesehatan jiwa masih panjang dan harus dilatih terus menerus. Adanya stigma di tengah masyarakat tentang orang dengan gangguan kesehatan jiwa tak jarang menjadi alasan orang tersebut akhirnya tidak mau terbuka, memilih menyendiri karena takut dicemooh, sehingga bisa saja orang tersebut mendapati kesehatan jiwa yang semakin memburuk.

“Pesan saya, kita sebagai masyarakat yang paham, harus membuka mata dan peka terhadap lingkungan, sehingga apabila ada yang membutuhkan pertolongan kesehatan jiwa, kita bisa bantu sebisa mungkin,” tutup dr. Warih.

Setelah sesi materi berakhir, para peserta juga melakukan praktek bersama aktivis kesehatan jiwa bagaimana terjun ke tengah masyarakat untuk melakukan edukasi dan pendekatan terhadap orang-orang dengan resiko gangguan kesehatan jiwa. Harapannya, para peserta semakin terlatih dan siap membantu masyarakat. (nisa)

Tulisan ini ditayangkan juga di https://jogja.antaranews.com/berita/631149/rumah-pelita-dan-dinkes-bantul-gagas-komunitas-relawan-kesehatan-jiwa

Read more: Rumah Pelita dan Dinkes Bantul Gagas Komunitas Relawan Kesehatan Jiwa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *